Di pelosok Pasapuat, Mentawai, cahaya Ramadhan belum sepenuhnya bersinar.
Hingga hari ini, daerah ini belum teraliri listrik. Satu-satunya harapan warga untuk menerangi malam dan menghidupkan Masjid Mujahidin adalah mesin dongpeng yang kini telah rusak parah dan tidak bisa lagi diperbaiki. Akibatnya, Ramadhan tahun ini terasa begitu sunyi.
Adzan tak lagi bisa dikumandangkan dengan pengeras suara.
Suara panggilan shalat hanya terdengar lirih di sekitar masjid.
Shalat tarawih pun terpaksa mengandalkan lampu baterai seadanya.
Di tengah gelapnya malam Mentawai, para jamaah tetap berdiri khusyuk dalam barisan. Tanpa cahaya terang, tanpa fasilitas memadai hanya dengan iman dan harapan.
Masjid Mujahidin bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat ibadah, tempat anak-anak belajar mengaji, tempat masyarakat bersujud dan bermunajat.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan yang penuh cahaya. Namun di Pasapuat, mereka masih berjuang menghadirkan terang itu.
Mari kita hadirkan kembali cahaya untuk Masjid Mujahidin.
Agar adzan kembali menggema.
Agar tarawih kembali diterangi.
Agar Ramadhan mereka tak lagi dalam kegelapan.
Semoga setiap cahaya yang kita nyalakan menjadi saksi amal jariyah kita di hadapan Allah
Verified Organization