Kabar Dampak Donasi
Lihat bagaimana kontribusi Anda membawa harapan dan dampak nyata bagi mereka yang membutuhkan

Ramadhan 1447 H menghadirkan momen yang berbeda di Kampung Kenara, Distrik Kamundan, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat (19/2). Di tengah bangunan yang belum rampung sepenuhnya, takbir tarawih perdana akhirnya menggema.
Masjid pedalaman yang dibangun oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Papua Barat kini sudah bisa digunakan, meskipun progres pembangunan belum mencapai 100 persen. Lantai dan dinding mungkin masih menyisakan pekerjaan. Namun semangat warga sudah lebih dulu berdiri utuh.

Sejak siang hari, warga Kampung Kenara telah bersiap. Mereka menunggu waktu berbuka dengan antusias. Anak-anak, orang tua, hingga para tokoh kampung hadir untuk menyaksikan dan merasakan langsung sholat tarawih perdana di masjid yang baru.
Semakin Dekat Ibadah
Bagi warga, kehadiran masjid ini bukan hanya soal bangunan. Selama ini, sebagian dari mereka harus menempuh jarak lebih jauh untuk melaksanakan sholat berjamaah. Kini, tempat ibadah itu berdiri lebih dekat dari rumah mereka.
“Alhamdulillah, meskipun belum rampung sepenuhnya, masjid ini sudah bisa digunakan. Harapan kami, pembangunannya segera selesai sehingga nyaman untuk sholat berjamaah dan tarawih,” ujar Bapak Walik Nabi.
Kesan bahagia terpancar dari wajah-wajah warga. Mereka tidak lagi merasa lelah berjalan jauh saat malam Ramadhan. Kehadiran masjid di kampung sendiri memberi rasa memiliki dan kebersamaan yang lebih kuat.
Kepala BMH Perwakilan Papua Barat, Wasmanto, menyampaikan bahwa pembangunan masjid pedalaman merupakan bagian dari komitmen untuk memperluas akses ibadah hingga wilayah terpencil.
“Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan fasilitas ibadah yang lebih dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Tarawih perdana di Kampung Kenara menjadi penanda bahwa pembangunan bukan hanya tentang beton dan semen. Ia adalah tentang menghadirkan ruang berkumpul, ruang belajar, dan ruang sujud yang lebih mudah dijangkau.
Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, gema takbir itu terdengar sederhana. Namun bagi warga Kampung Kenara, ia adalah tanda bahwa harapan bisa berdiri, meski dindingnya belum sepenuhnya selesai